Cerpen Vika Wisnu (Jawa Pos, 06 Maret 2017)
MINGGU pagi dua hari lalu aku melihatnya di pertengahan Jalan Veteran. Dari arak lima puluh meteran dan terhalang kaca jendela taksi, aku dapat mengenalinya dengan baik, Yoko berjalan sangat pelahan, seperti mau berhenti tapi urung. Menoleh ke kiri dengan gerakan luar biasa lambat—seperti sengaja diperlambat, matanya terkunci pada sebuah bangunan megah dari sebuah zaman, gedung yang pernah tersohor dengan nama Societeit Concordia.
![]() |
| Ilustrasi Bagus/Jawa Pos |
MINGGU pagi dua hari lalu aku melihatnya di pertengahan Jalan Veteran. Dari arak lima puluh meteran dan terhalang kaca jendela taksi, aku dapat mengenalinya dengan baik, Yoko berjalan sangat pelahan, seperti mau berhenti tapi urung. Menoleh ke kiri dengan gerakan luar biasa lambat—seperti sengaja diperlambat, matanya terkunci pada sebuah bangunan megah dari sebuah zaman, gedung yang pernah tersohor dengan nama Societeit Concordia.











